Sabtu, 24 Maret 2012

Ceng zamzam


Mendengar nama Zamzam, sebagian besar orang akan langsung membayangkan satu sosok yang begitu dekat dengan Alqur'an.  Lantunan tilawahnya yang syahdu cukup untuk membuat saya mengistirahatkan sejenak telinga dari aktivitas pendengaran lainnya.

Lebay?? ah tidak juga.  Sejak dulu saya memang selalu terenyuh mendengar bacaan Alqur'an yang begitu indah, dan salah-satunya adalah dengan irama yang biasa dilantunkan oleh Zamzam. Ada rasa yang tak biasa.  Menurut saya, inilah ajaibnya Alqur'an.  

Setiap telinga saya menangkap suara seperti itu, entah melalui corong speaker masjid, putaran kaset, di kampus, televisi, atau di mana saja, rasanya seperti ada magnet yang menarik hati saya untuk mempertajam pendengaran.  Saya akan diam sembari membayangkan, siapa sesungguhnya yang menebar alunan indah itu?


Banyak, banyak yang memiliki pita dan lagam suara begitu jernih dalam membawakan kalam Ilahi, dan Zamzam hanyalah salah-satunya.

Istimewanya, Zamzam masih seorang anak kecil (sekarang sih udah remaja, he he).  Tapi bagi saya tetap luar biasa.  Jarang saya menemui, atau setidaknya sepanjang pengamatan saya yang jauh dari kehidupan pesantren, seorang anak demikian konsisten dan terjaga sejak kecil.  Kafaah dan pengamalan ilmu agamanya patut diacungi jempol, untuk anak seusia remaja.

Saya pertama mendengarnya membaca cuplikan alqur'an dan hadits pada sinetron Islam KTP.  Dan selalu, setiap adegan itu hadir saya akan diam.  Ah, sulit menjabarkan apa yang terjadi dengan hati saya saat suara itu keluar.  Intinya adalah, saya selalu 'jatuh cinta' setiap mendengar alunan suaranya.

Di antara keseluruhan pemain Islam KTP, justru Zamzam yang jarang kehadirannya yang paling saya idolakan.  Bukan, bukan layaknya penggemar mengidolakan selebritis, karena saya tidak pernah berfikir bahwa Zamzam adalah seorang artis.  Bagi saya kedudukan seseorang yang dekat dengan Alqur'an, fasih dan memiliki pemahaman serta hafalan akan ayat Alqur'an jauh lebih hebat dibanding selebritis biasa.
Seperti dituturkan oleh Zamzam dalam status fbnya : "sorry I'm not a super stars,,but I'm just a litle humble ustadz,,,,hehe" (21 September 2011: 9.36 WIB).

Suatu hari, pada detik-detik menjelang Ramadhan 1432 H (31 Juli 2011 sore) saya menghadiri acara semarak Ramdhan di Pusdai.  Ternyata Zamzam menjadi pengisi acara.  Ia bersama beberapa santri Ash Shiddiqiyah melantukan shalawat yang tak kalah indah dengan alunan tilawahnya.  Beberapa jam saya larut dalam suara indah Zamzam.  Luar Biasa!!  Saya bahkan memburu CD shalawatnya yang memang tidak dijual bebas, meski harus melalui perjalanan yang cukup berliku.

Sejak itu beberapa informasi saya dapatkan, bahwa ternyata Zamzam memang sejak kecil dididik untuk istiqomah bersama Alqur'an.  Ia beberapa kali mengikuti kejuaran MTQ dan pernah meraih juara tingkat nasional bahkan internasional.

Sempat terfikir, betapa beruntung dan bangga kedua orangtuanya.  Tapi, tentulah Zamzam yang sekarang justru tak lepas dari peran dan doa yang teramat besar dari orangtua.  Pasti bukan hal ringan dan mudah untuk membimbing seorang anak di tengah gejolak dunia yang semakin beragam oleh problema.

Terkadang lucu juga mengamati obrolan Zamzam bersama teman seusianya. Khas anak-anak.  Tapi bagi saya justru ini harus dipertahankan, karena bagaimanapun, anak-anak tetaplah anak yang tak boleh luntur ciri kekanak-kanakannya.  Yah, dia masih anak-anak.  Lalu bagaimana dengan kita?  Bukankah SEHARUSNYA perjalanan dan pengalaman hidup yang sedikit lebih lama telah memberikan waktu yang panjang, untuk lebih berinteraksi dengan Alqur'an?  SEHARUSNYA.  Tapi toh jika tidak, tidak ada kata terlambat.
Ya, begitulah.  Zamzam adalah sosok anak kecil yang banyak memberikan inspirasi.  Inspirasi untuk semakin mencintai Alqur'an.  Semakin akrab hingga dapat menjadi sahabat Alqur'an.  Saya ingin, dengan perjuangan untuk selalu istiqomah bersama Alquran pada akhirnya menular, hingga Allah menganugerahkan saya keturunan yang juga cinta akan Alqur'an, faham Alqur'an, bahkan seorang hafidz Qur'an.  Allahumma Aamiin.

Jadi, jangan tanyakan kenapa saya menjadi fans Ceng Zamzam.  Saya mencintai, atau setidaknya sedang berusaha mencintai Alqur'an.  Karena itu, selalu ada perasaan kagum, untuk orang-orang yang bisa demikian akrab bersama Alqur'an.  Selalu saja salut, untuk mereka yang dapat dengan indah memperdengarkan kalam Ilahi, apalagi jika mereka masih anak-anak. 


0 komentar:

Posting Komentar